07 Juni, 2008

Ambisi Boleh Saja, Tapi Ambisius?

Untuk meraih tujuan yang diinginkan terkadang orang terlalu memaksakan diri sehingga sering mengalami kekecewaan. Memiliki suatu ambisi memang boleh-boleh saja untuk memotivasi diri sendiri tapi jangan terlalu ambisius. Karena seseorang yang berambisius akan mengorbankan sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Jadi tidak ada salahnya anda sesekali melepaskan ambisi yang berlebihan untuk sesaat. Simak beberapa langkah untuk melepaskannya, dibawah ini.


Berpikir Positif. Untuk menjadi diri sendiri dan bisa mengontrol diri adalah berpikir secara positif. Terkadang saat ambisius muncul, anda ingin menjadi yang terbaik dalam segala bidang. Tetapi biasanya anda tidak terpikir, apakah hal itu baik atau tidak. Saat anda melakukan suatu kesalahan, apakah anda akan mengkritik diri sendiri ?


Katakan pada diri anda sendiri bahwa apa yang telah anda lakukan adalah yang terbaik. Mulailah berpikir positif untuk diri anda sendiri tanpa membuat anda over percaya diri. Memang hal ini tidak mudah dilakukan, tapi saat anda merasakan efeknya berpikir positif maka tidak akan ada lagi pikiran negatif. Dengan mengatakan pada diri tentang hal-hal baik maka akan menghasilkan sesuatu yang baik juga.


Tentukan tujuan jelas. Salah satu sifat orang yang ambisi adalah berusaha sekeras mungkin untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Tentu saja hal ini tidak salah tapi jika apa yang diinginkannya tidak tercapai maka akan mengalami kekecewaan yang cukup mendalam.


Biasanya orang yang ambisius tidak berpikir panjang dan tidak memiliki rencana sukses. Karena mereka lebih banyak mengikuti kata hatinya saja. Jadi matangkan rencana dengan sempurna dan bayangkan kesuksesan akan rencana tersebut. Pikirkan sesuatu hal yang kemungkinan akan terjadi sehingga saat rencana mengalami kegagalan maka tidak akan kecewa. Satu hal yang perlu dipertahankan adalah terus bangkit dan buatlah rencana baru.


Salah satu cara untuk mengenal diri sendiri adalah kritikan atau saran dari orang terdekat. Jadi bukalah diri anda untuk menghadapi kritikan dan pujian agar anda bisa mengetahui kualitas diri anda sendiri. Ajaklah mereka untuk mendiskusikan masalah anda agar mereka selalu siap memberi dukungan kepada anda.


Memang banyak orang yang tidak suka dengan sifat ambisius karena terkesan belagu. Mulailah jadikan diri anda, seseorang yang berbeda tapi tetap menyenangkan. Dengan begitu akan tercipta citra diri anda yang lebih baik.


Hal terakhir yang harus anda perhatikan adalah jangan memaksakan diri untuk tampil menjadi yang terbaik. Setiap orang memiliki keterbatasan masing-masing, dengan segala kelebihan dan kekurangan. Tapi jika anda terlalu keras pada diri sendiri maka anda juga akan kecewa.


Jadi janganlah memaksakan diri untuk meraih kesuksesan saat anda melihat oranglain mengalami kesuksesan. Pelajari kemampuan yang anda miliki agar memudahkan anda memraih kesuksesan. Asah terus kemampuan dan wawasan anda serta minimalis kekurangan anda.

19 Mei, 2008

Hubungan Chatting dan Selingkuh

Semakin banyak orang menikah yang memanfaatkan fasilitas chatting di Internet untuk memperoleh hiburan lain dari lawan jenis yang bukan pasangannya, demikian temuan sebuah penelitian di AS yang dilaksanakan baru-baru ini.


Menurut penyelidikan yang dilakukan peneliti dari Universitas Florida, para chatter yang terlibat hubungan dengan orang lain di Internet itu tidak merasa tindakannya salah, apalagi mengancam rumah tangga mereka. Padahal di lain pihak, banyak pasangan yang beranggapan hubungan lewat jagad maya itu termasuk pengkhianatan, meski dalam banyak kasus para chatter tidak melakukan kontak fisik.

"Internet sepertinya akan menjadi salah satu bentuk umum ketidaksetiaan, atau bahkan sudah," ujar Beatriz Mileham dari Universitas Florida, peneliti kasus ini. "Sebelumnya tidak pernah seorang pria atau wanita yang sudah menikah menemukan ’kencan’ atau ’teman selingkuh’ semudah ini."


Getaran Seksual

Senada dengan penelitian Mileham, sebuah grup konseling di AS mengatakan bahwa chat room sekarang telah menjadi salah satu penyebab tercepat retaknya hubungan suami-istri. "Masalah itu bisa menjadi lebih parah seiring dengan makin banyaknya orang yang online dan gemar chatting," papar Mileham.


Dalam penelitian yang dilakukannya, Mileham mewawancarai beberapa pria dan wanita yang menggunakan chat room sebagai tempat mencari ’teman’. Ia mendapatkan bahwa kebanyakan orang yang chatting dengan partner yang sama lama-lama akan jatuh cinta padanya. Rasa jatuh cinta itu tidak seperti jatuh cinta pada pasangannya, tapi ada sisi-sisi erotis bahwa mereka tidak saling tahu, dan tidak ada rasa harus bertanggungjawab. Pendek kata banyak orang yang jatuh cinta karena bebasnya hubungan itu.


"Di situ kita bisa membicarakan apa saja tanpa harus dibebani rasa malu," ujar seorang responden pria. "Orang juga merasa lebih bebas karena mereka tidak harus bertemu mata secara langsung pada awal perkenalan mereka."


Mengapa orang berpetualang di chat room? Menurut penelitian, penyebab utamanya adalah kebosanan, pasangan yang tidak lagi bergairah secara seksual, pasangan yang tidak menarik, keinginan untuk mencoba sesuatu yang lain, atau hanya sekedar main-main.


"Alasan utama yang diutarakan para pria adalah tidak harmonisnya kehidupan seksual dalam perkawinan mereka," tandas Mileham. "Banyak diantaranya mengatakan bahwa istri mereka terlalu disibukkan dengan urusan anak-anak sehingga tidak lagi tertarik untuk melakukan hubungan seksual."


Dari Virtual Menjadi Kenyataan

Berdasar penelitian, Mileham menemukan pula bahwa apa yang mulanya merupakan chatting pertemanan seringkali menjadi hubungan yang lebih serius. Hampir sepertiga dari responden mengaku pernah menemui teman kencannya. Di antara mereka yang melakukan pertemuan tersebut, nyaris seluruhnya berakhir dengan perselingkuhan sungguhan.

"Dengan kondisi tersebut, tidak heran bila aktivitas seksual online merupakan penyebab utama dalam masalah perkawinan di masa mendatang," kata Al Cooper, pengarang buku Sex And The Internet: A Guidebook For Clinicians.


"Banyak masalah yang berawal dari kegenitan online, dan berakhir pada perceraian. Jadi berhati-hatilah!" demikian diperingatkan Cooper.